Setiap 1–30 September, dunia memperingati Pain Awareness Month, sebuah inisiatif global yang dimulai di Amerika Serikat pada tahun 2001 dan kini diadopsi di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Momentum ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat tentang isu nyeri (terutama nyeri kronis), serta mendorong pemahaman, penelitian, dan akses terhadap perawatan yang lebih efektif bagi jutaan orang yang hidup dengan kondisi tersebut.
“Dalam momen Pain Awarness Month (bulan kesadaran nyeri) ini, kami terus berkomitmen membantu pasien mendapatkan kualitas hidup yang lebih baik tanpa dibatasi oleh rasa nyeri, dengan cara edukasi, inovasi terapi, dan pelayanan yang empatik,” ujar dokter spesialis nyeri dr. Mohammad Tsani Musyafa, M.Kes., Sp.OT., AIFO-K.
Selama sebulan penuh, kampanye ini menjadi panggung untuk mendidik masyarakat luas dan tenaga profesional kesehatan mengenai dampak mendalam nyeri kronis terhadap kualitas hidup individu.
Selain itu, Pain Awareness Month juga menyoroti pentingnya advokasi kebijakan publik untuk memperluas akses layanan medis, terapi pendukung, dan inovasi perawatan berbasis riset yang lebih inklusif dan berkelanjutan. (ADT/DA)